Masa-Masa Sulit Buya Hamka di Bawah Rezim Nasakom: Dituduh Subversif hingga Dipenjara Tanpa Bukti

Oleh : Tim Redaksi
Masa-Masa Sulit Buya Hamka di Bawah Rezim Nasakom
Perjalanan hidup Buya Hamka tidak hanya diwarnai oleh kiprahnya sebagai ulama, sastrawan, dan cendekiawan Muslim. Ia juga pernah mengalami salah satu episode paling berat dalam hidupnya ketika ditangkap pada masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno.
Penangkapan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik Indonesia pada awal 1960-an, ketika situasi nasional dipenuhi ketegangan antara berbagai kekuatan politik dan ideologi.
Penangkapan Buya Hamka pada Bulan Ramadan
Pada Senin, 27 Januari 1964, yang bertepatan dengan hari ke-12 Ramadan 1383 Hijriah, Buya Hamka baru saja menyelesaikan pengajian rutin kaum ibu di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.
Tak lama setelah tiba di rumahnya, empat petugas kepolisian datang membawa surat penahanan sementara. Hamka dituduh melanggar Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 11 Tahun 1963 tentang pemberantasan kegiatan subversif.
Setelah melakukan penggeledahan rumah, aparat membawa Hamka ke kantor polisi. Barang yang dibawanya hanya perlengkapan sederhana seperti pakaian, sarung, sajadah, dan handuk. Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarganya, bahkan sang istri dikisahkan jatuh pingsan saat menyaksikan penangkapan tersebut.
Tuduhan Subversif terhadap Buya Hamka
Di ruang pemeriksaan, Buya Hamka mengetahui bahwa dirinya dituduh terlibat dalam sebuah rencana untuk menggulingkan pemerintahan dan bahkan disebut sebagai bagian dari kelompok yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno.
Menurut tuduhan penyidik saat itu, Hamka disebut menghadiri sebuah pertemuan rahasia di Tangerang pada 11 Oktober 1963 bersama sejumlah mantan tokoh Partai Masyumi.
Namun, Hamka membantah tuduhan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pada tanggal yang dimaksud dirinya justru berada di Masjid Agung Al-Azhar menghadiri acara pelantikan pengurus Muhammadiyah Jakarta. Acara tersebut bahkan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat sehingga keberadaannya dapat diketahui oleh banyak saksi.
Situasi Politik Indonesia pada Era Demokrasi Terpimpin
Penangkapan Buya Hamka tidak dapat dilepaskan dari kondisi politik Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin.
Setelah pembubaran Partai Masyumi, sejumlah mantan tokohnya berada dalam posisi politik yang sulit. Di saat yang sama, hubungan antara pemerintah dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin erat melalui konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).
Situasi politik yang penuh ketegangan membuat banyak tokoh Islam maupun tokoh politik menjadi sasaran tuduhan subversif.
Fitnah terhadap Buya Hamka
Selain menghadapi proses hukum, Buya Hamka juga menjadi sasaran berbagai tuduhan di ruang publik.
Salah satu yang paling dikenal adalah tuduhan bahwa novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan hasil plagiarisme dari karya sastra luar negeri.
Isu tersebut ramai diberitakan melalui sejumlah media yang berafiliasi dengan kelompok kiri pada masa itu. Tuduhan tersebut memicu polemik panjang di dunia sastra Indonesia.
Meskipun demikian, banyak kalangan menilai bahwa serangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari persaingan ideologi dan politik yang berkembang saat itu.
Keteguhan Buya Hamka Menghadapi Cobaan
Bagi keluarga Hamka, masa penahanan tersebut merupakan ujian yang sangat berat.
Dalam berbagai catatan keluarga, putranya Rusydi Hamka mengenang bagaimana ayahnya tetap menunjukkan ketenangan dan keteguhan meski menghadapi tuduhan serius yang menurutnya tidak berdasar.
Sikap sabar dan konsisten dalam mempertahankan prinsip inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dari warisan moral Buya Hamka.
Buya Hamka Tetap Berkarya di Tengah Ujian
Meskipun kehilangan kebebasan selama masa penahanan, Hamka tetap memanfaatkan waktunya untuk menulis dan memperdalam kajian keislaman.
Salah satu karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar, mulai disusun dan disempurnakan pada masa-masa tersebut. Karya itu kemudian menjadi salah satu tafsir Al-Qur’an berbahasa Indonesia yang paling berpengaruh hingga saat ini.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghentikan semangat intelektual dan dakwahnya.
Pelajaran dari Perjalanan Buya Hamka
Perjalanan hidup Buya Hamka memperlihatkan bahwa seorang tokoh publik dapat menghadapi tekanan politik yang sangat berat.
Terlepas dari dinamika sejarah yang melingkupinya, kisah tersebut mengajarkan pentingnya menjaga integritas, kesabaran, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Sebagai ulama, sastrawan, dan pemikir Islam, Buya Hamka meninggalkan warisan berupa karya-karya yang hingga kini masih dipelajari dan menginspirasi banyak generasi.






