Oleh : Tim Redaksi
Djohan Effendi. Namanya cukup dikenal sebagai pembela kelompok sempalan Ahmadiyah dan senior di kalangan aktivis liberal. Namanya masuk dalam buku “50 Tokoh Liberal di Indonesia” dalam kategori pionir atau pelopor gerakan liberal bersama dengan Ahmad Wahib, Munawir Sadzali, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Mukti Ali, dan Abdurrahman Wahid. Peneliti asal Australia, Greg Barton juga mesenjajarkan pria berkacamata tebal ini dengan tokoh-tokoh pelopor liberalisme di atas.
Saat umat Islam ramai menolak keberadaan Ahmadiyah dan meminta Presiden SBY agar mengeluarkan Keppres pembubaran organisasi yang didirikan oleh nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad tersebut, Djohan Effendi yang lahir di Kandangan Hulu, Kalimantan Selatan, 1 Oktober 1939, justru pasang badan membela Ahmadiyah .Pria yang dikenal akrab dengan Gus Dur ini bahkan mengusulkan kepada pemerintah agar membuat pulau khusus bagi warga Ahmadiyah. Ia juga menyerukan agar pengikut Ahmadiyah mencari suaka politik ketimbang harus hidup di Indonesia.
Ketika menjabat di lingkungan Departemen Agama dan menjadi Menteri Sekretarus Negara pada era Presiden Gus Dur, Djohan juga menjadi bumper bagi kelompok Ahmadiyah. Belakangan Djohan tak sekadar membela hak-hak warga Ahmadiyah, ia bahkan diduga kuat telah menganut ajaran kelompok tersebut. Bagi Djohan, Ahmadiyah mempunyai hak yang sama dalam menjalankan keyakinannya di Indonesia.
Namun siapa sangka, Djohan yang dikenal vokal membela Ahmadiyah, dahulu adalah sosok yang begitu mengagumi Ustadz A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) yang justru dikenal sebagai penentang keras dan lawan hebat dalam perdebatan melawan Ahmadiyah. A. Hassan pernah melakukan debat secara terbuka selama tiga hari dengan Ahmadiyah di Bandung dan Batavia pada tahun 1933. Dalam perdebatan yang dihadiri ribuan orang itu, A. Hassan yang mewakili kelompok Pembela Islam,berhadapan dengan para pemuka Ahmadiyah. Debat fenomenal yang dikenang sepanjang sejarah itu menghadirkan tokoh-tokoh Ahmadiyah seperti Maulana Rahmad Ali dan Abu Bakar Ayyub. Sementara dari pihak Pembela Islam diwakili oleh A. Hassan. Pihak Ahmadiyah kewalahan meladeni argumentasi yang disampaikan oleh A. Hassan. Ajaran sesat Ahmadiyah pun dikuliti.
Ia tertarik dengan kemampuan A. Hassan dalam memaparkan argumen dan dalil-dalil agama ketika melakukan polemik ataupun debat terbuka. Ia mengkhatamkan risalah perdebatan antara A. Hassan dengan Hussein Al-Habsyi, tokoh Syiah di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, tentang madzhab. A. Hassan berpendapat, umat Islam tidak wajib bermadzhab, tapi wajib berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara Hussein Al-Habsyi yang juga pengelola Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Bangil, berpandangan wajib bermadzhab. Sayang, apakah Djohan Effendi juga sudah membaca risalah perdebatan antara A. Hassan dengan para mubaligh Ahmadiyah?
Selain A. Hassan, Djohan Effendi juga mengagumi sosok KH. Moenawar Cholil, tokoh Persis yang juga dikenal sebagai penulis buku terkenal berjudul, “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad.” Begitu juga dengan tokoh Persis lainnya, seperti KH Isa Anshari, yang begitu menginspirasi Djohan Effendi. Ia kagum dengan “Manifesto Perjuangan Persis” yang digagas oleh KH Isa Anshari, sebagaimana pengakuannya dalam buku “Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi” yang diterbitkan oleh Kompas, tahun 2009. Karena kekagumannya terhadap manifesto itu, Djohan bahkan pernah melamar menjadi anggota Persis. (hal.27-28),
Setelah menamatkan studi di kampung halamannya, Djohan Effendi melanjutkan studi ke Jogjakarta untuk menempuh studi di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Sebelum berangkat ke Jogja, Djohan berkirim surat ke kantor Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) di Bandung. Dalam suratnya, ia meminta rekomendasi dari pimpinan Persis untuk bisa mencarikan anggota Persis yang tinggal di Jogja untuk mencarikan tempat kost dan teman selama ia di sana. Dari pimpinan Persis di Bandung, Djohan diminta menghubungi tokoh Persis di Jogjakarta bernama KH. Ma’shum, yang dikenal sebagai ahli fikih juga.
Setelah berkirim surat kepada KH Ma’shum, Djohan mendapatkan balasan dari kiai tersebut. Kepada Djohan, Kiai Ma’shum menyarankan agar ia indekos di rumah tokoh Aisiyah, Hj. Damiri, yang terletak di wilayah Kauman, basis santri di Jogjakarta. Dalam suratnya, Kiai Ma’shum juga berpesan kepada Djohan, “Kalau mau mencari pangkat silakan ke Jogja. Tapi kalau ingin mencari ilmu Islam, datanglah ke Bangil (Pesantren Persis Bangil).” (hal.42)
Sayang, menurut cerita, surat balasan Kiai Ma’shum datang terlambat. Djohan sudah lebih dulu datang ke Jogja dan studi di sana. Andaikan tidak, bisa saja Djohan Effendi mengikuti saran Kiai Ma’shum untuk menimba ilmu di Pesantren Persis Bangil, yang pada masa itu diasuh langsung oleh A. Hassan. Dan bisa saja, Djohan Effendi akan menjadi penentang hebat Ahmadiyah, sebagaimana A. Hassan, bukan malah menjadi pembela Ahmadiyah yang dilakoninya kini.
Dari Jogjakarta inilah, Djohan dikabarkan mulai berkenalan dengan para aktivis Ahmadiyah dan berinteraksi dengan mereka…
Jalan hidup seseorang memang rahasia Ilahi. Begitupun dengan hidayah. Seseorang bisa saja, pagi hari beriman, senja hari menjadi kafir. Sekarang istiqamah, besok bisa menjadi munafik. Karenanya, agar pasang surut kehidupan ini tetap berada dalam jalur yang benar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa dan meminta perlindungan Allah, “Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu.”
Dikutip di web https://artaazzamwordpresscom.wordpress.com/







