Oleh : Muhamad Yasir
Allah berfirman,
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (Al-Qashash: 77)
Suatu hari, Abdullah Al-Ma’mun, Khalifah ke 7 dari daulah Abbasiyah, ia anak Harun Rasyid, (tahun 198 H atau 800 Hijriyah), duduk bersama sahabat-sahabatnya. Khalifah Al-Ma’mun berkata kepada Hasan bin Sahal, “Wahai Abu Muhamad, Sungguh aku sudah merasakan banyak kenikmatan, namun semua kenikmatan itu membosankan kecuali tujuah kenikmatan. Hasan bin Sahal balik bertanya, “Apakah tujuh kenikmatan itu wahai Amirul mukminin?” Khalifah Al-Ma’mun menjawab,
خُبْزُ الْحِنْطَةِ، وَلَحْمُ الْغَنَمِ، وَالْمَاءُ الْبَارِدُ، وَالثَّوْبُ النَّاعِمُ، وَالرَّائِحَةُ الطَّيِّبَةُ، وَالْفِرَاشُ الْوِطَيُّ، وَالْفِطْرُ، وَالنَّظَرُ إِلَى الْحَسَنِ مِنَ كُلِّ شَيْءٍ، قَالَ: فَأَيْنَ أَنْتَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ مُحَادَثَةِ الرَّجُلِ؟ قَالَ: صَدَقْتَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، هِيَ أُولاهُنَّ، وَتَمَّمْتُ ثَمَانِيَةَ ثَمَانِيَةٍ “
Roti, daging kambing, air dingin, pakaian lembut, minyak wangi, ranjang tempat tidur, memandang ke segala sesuatu yang bagus. Hasan berkata, “Apa pandanganmu wahai amirul mukminin tentang, laki-laki yang berbincang santai.” Khalifah Al-Ma’mun menjawab, “Engkau benar wahai Abu Muhamad, tujuh yang aku sebutkan dan engkau menyempurnakan menjadi delapan.”
Khubzul Hintah
Masing-masing daerah, umat, miliki makanan khas masing-masing, seperti, sagu, jagung, keju, dll. Khubzul Hintah adalah makanan gandum yang selalu nikmat dan tidak membosankan. Gandum merupakan makanan pokok yang sudah turun temurun dilestarikan, sejak dari zaman Nabi Yusuf gandum sudah dikenal. Allah berfirman,
وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Bersama Yusuf masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur,” dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku. Sebagiannya dimakan burung.” Keduanya berkata, “Jelaskanlah kepada kami takwilnya! Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 36)
Rasulullah juga bersabda tentang roti,
قَالَتْ: «مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خُبْزِ بُرٍّ مَأْدُومٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ (البخاري)
Aisyah mengabarkan tentang kesederhanaan keluarga dengan menyebut roti gandum. Aisyah berkata, “Keluarga Muhammad tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat).” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Penulis saat menjadi mahasiswa pernah tinggal di rumah seorang dosen Mesir, dan di rumah itu, penulis melihat mereka menyimpan roti keras dalam karung, mereka biasa memakan roti itu dengan halib, yaitu susu panas, sementara nasi mereka memakan sekadarnya.
Sebagian ulama dan penuntut ilmu banyak yang kuat belajar karena mengkonsumi roti gandum dan daging. Ia makanan yang menguatkan fisik dan tidak membosankan, ia dikonsumi banyak lapisan generasi.
Lahmu Ghanam
Lahmul Ghanam atau daging kambing merupakan makanan lezat yang tidak membosankan. Di kehidupan Nabi, sahabat dan generasi salaf, mereka terkenal banyak mengkonsumi kambing muda. Utsman bin Affan dalam sebuah kesempatan berkata bahwa kambing mudah dapat membuat wajah kemerah-merahan.
وَسُئِلَ عَنْ الْوُضُوءِ مِنْ لَحْمِ الْغَنَمِ فَقَالَ لَا تَتَوَضَّئُوا مِنْهَا (المنتقى شرح الموطأ)
Nabi pernah ditanya tentang hokum berwudhu saat memakan daging kambing, beliau berkata, “Kalian tidak perlu berwudhu (kembali) setelah memakan dagingnya.” (Al-Muntaqa Syarah Al-Muwatha)
Daging kambing maupun sapi merupakan makanan kesukaan para Nabi dan orang-orang shaleh. Saat Ibrahim kedatangan Tamu, ia memberi jamuan terbaik berupa daging bakar. Saat Ibrahim melihat tamunya ia segera bergegas ke belakang Ibrahim pun datang sambil membawa daging anak sapi yang dibakar. Dengan penuh sopan santun, Ibrahim menghidangkannya untuk tamunya.
Ma’ul Barid
Ma’ul Barid yang air sejuk yang didinginkan secara tradisional. Para musafir dan orang-orang arab terdahulu dan kini terbiasa mendinginkan air dengan menggunakan kirbah, saat di perjalanan, air sejuk itu terasa nikmat dan tidak membosankan. Orang yang haus akan sangat menikmati. Berikut ini kisah Hatim dan air putih.
Hatim adalah seorang laki-laki shaleh. Ia tinggal di ujung desa Khurasan, sebuah kota tua Islam di masa lampau, ia tinggal bersama anak-anaknya.
Besar keinginan Hatim ingin naik haji, tapi ia selalu khawatir meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan tidak berkecukupan.
Anak perempuan paling dewasa dan mengenal Rabbnya pun berkata, “Pergilah wahai ayah, pasrahkan urusan kami hanya kepada Allah sebagai Penjamin rezeki.”
Mendengar itu, Hatim pun tenang dan akhirnya naik haji untuk beberapa lama.
Tidak lama kemudian, seorang penguasa lewat di kampung itu. Karena kehausan, sang penguasa pun mampir bertepatan di rumah Hatim untuk meminta air minum.
Dari atas kendaraan ia bertanya, “Sudikah kalian memberi air untuk kami?”
Karena air minum itu tersedia baik di rumah orang kaya maupun miskin, “Dengan senang hati kami memberimu.”
Penguasa itu pun disuruh masuk ke rumah untuk minum. Ketika minum itulah, ia melihat sudut-sudut rumah yang menunjukkan pemiliknya seorang yang sederhana.
Setelah membaca Alhamdulillah, sang penguasa pun memberinya kantung uang berisi dinar, dimana jumlahnya, jika Hatim menghabiskan waktunya seumur hidup mencari rezeki sebanyak itu, ia tidak akan sanggup mendapatkannya.
Anak perempuan paling tua pun berkata kepada adik-adiknya, “Adik-adikku, penguasa itu hanya makhluk Allah yang sedang iba melihat keadaan kita lalu ia memberi. Maka, bagaimana dengan Allah, Dia sebagai Arhamu rahimin, Dzat yang paling Penyayang di alam semesta. Bagaimana jika Dia iba melihat hambaNya? Dia pasti menyayangi hambanya lebih dari penguasa itu. (Sumber: Syekh Shaleh Al-Maghamsi, dalam ceramah, Mata Yurzaqu Al-Abdu Al-Khaira)
Tsaub Naim
Tsaub Naim adalah kain halus yang menjadi kebanggaan dan kesenangan orang-orang dahulu bahkan sampai hari ini. Sebagian orang tua, menyimpan kain-kain sarung di lemari merupakan sebuah kekayaan.
Setiap orang tentu berhak memanjakan dirinya namun tidak berlebih-lebihan, termasuk dalam memiliki kain atau pakaian halus. Rasulullah sendiri sering mendapatkan kiriman kain dari negeri Yaman, beliau senang dan menghormati pemberian itu, itu terbukti beliau mengenakannya di hadapan para sahabatnya.
Raihah thayyibah
Yaitu minyak wangi, ia merupakan kesenangan yang tidak membosankan. Dunia arab dari dahulu sempai sekarang terkenal sebagai masyarakat yang senang mengkonsumsi minya wangi.
Rasulullah pun pernah berkata,
حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Aku dijadikan cinta kepada wanita, minyak wangi dan dijadikan shalat sebagai penyejuk pandangan.” (An-Nasa’I dari Anas bin Malik)
Ulama Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Malik dan yang lainnya saat mengajar dan berfatwa mereka memakai minyak wangi dan pakaian yang indah, itu dilakukan untuk menghormati ilmu dan menyenangkan orang lain.
Firasy Muwatha
Ranjang tidur merupakan kenikmatan yang tidak pernah membosankan, ia tempat menghilangkan penat dan tempat berbagi cerita dengan pasangan hidup sekeligus memadu cinta.
Ranjang tidur bagi laki-laki atau suami sebuah tempat yang menyenangkan dan tidak pernah membosankan.
An-Nazhar ilal Hasan Min Kulli Syai’i
Yaitu memadang kepada sesuatu yang menyenangkan mata, seperti bunga, rumah, wanita, anak yang lucu, dst, merupakan kesenangan yang tidak pernah membosankan. Namun sebuah kaidah menyebutkan, jika engkua senang kepada seseorang, maka semua wajahnya akan terlihat indah, sebaliknya jika engkau benci kepada seseorang maka semua wajahnya akan terlihat buruk.
Muhadatatsu Rijal
Yaitu pembicaraan atau diskusi santai antara para lelaki di tempat-tempat santai, apalagi jika disertai minuman seperti kopi atau makanan ringan seperti kacang atau sejenisnya, membuat suasana semakin hidup, tema pembicaraan semakin berkembang. Suasana seperti ini merupakan kenikmatan yang tidak pernah membosankan.
Berbicara dan berdiskusi akan menjadi nikmat dan hidup tergantung bersama siapa berdiskusi.
Rasulullah terbiasa duduk santai bersama sahabatnya, terkadang makan bubur kambing sambil membicarakan masa depan Islam, seperti penaklukan Romawi, dll.
Umar bin Khathab berdiskusi dengan sahabatnya membicarakan tentang pengumpulan mushaf dan penanggalan hijriyah.
Orang-orang dahulu berkata, “Orang biasa bicara tentang kejadian, orang sedang bicara tentang perisitiwa, orang hebat bicara tentang ide dan gagasan.”







