Sahabat…
Aku tulis surat ini sebagai renungan jelang hari pernikahanmu. Sekaligus juga sebagai taushiyah dalam mengarungi bahtera rumah tangga kita semua…
Sahabat…
Asas pernikahan adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernikahan adalah menyatunya dua insan untuk bersama-sama dalam suka dan duka, senang dan gembira, lapang dan sempit, untuk selalu bersabar dalam ketaatan kepada Allah, Rabb yang menggenggam takdir kehidupan kita.
Bersabar dalam peliknya hidup dan menjaga ketaatan dalam setiap keadaan, inilah yang menjadi kunci dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Semua pasti mengalami pasang surut kehidupan. Kadang susah, kadang gembira. Kadang lapang, kadang sempit. Kadang berlimpah rezeki, kadang tak ada sama sekali. Itulah hidup. Sikapi dengan sabar dan taat. Doa dan usaha. Ikhtiar dan tawakal. Yakinlah, bahwa ketaatan kita kepada Allah akan membuka kelapangan segala urusan…
Gemerlapnya dunia memang menyilaukan. Tapi, jangan kau terpesona. Letakkan dunia di telapak tanganmu untuk kau genggam, kau taklukkan. Jangan kau letakkan dunia di hatimu. Bersabarlah dalam barisan orang-orang yang bertakwa, sebagaimana perintah-Nya dalam Al-Qur’an yang mulia, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang kepada Tuhannya di pagi dan senja hari; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah hatimu mengikuti orang-orang yang telah kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya. Dan sesungguhnya urusan mereka itu melampaui batas.” (Al-Kahfi:28).
Sahabat…
Menikah adalah upaya seorang Muslim untuk menjaga kehormatannya, menghalalkannya kepada yang benar-benar halal dan berhak. Menjaga kesuciannya dalam ikatan pernikahan yang sakral. Sebuah ikatan suci yang Allah sebut sebagai mitsaqan ghaliza, perjanjian yang agung antara dua orang insan untuk mengarungi kehidupan dalam ketaatan. Akad yang ditorehkan saat ijab kabul adalah perjanjian suci yang harus dijaga, dirawat, dan dibina dalam asas iman dan ketakwaan.
Mereka yang menjaga kehormatannya dengan menikah dan memancangkan niat untuk beribadah, tak akan pernah Allah sia-siakan usahanya. Menikah akan membuat kita kaya. Menikah akan membuat kita memahami betapa kita tak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang-orang terkasih untuk melangkah. Kita butuh orang-orang tersayang untuk memberikan semangat ketika rapuh dan patah. Kita butuh vitamin dan nutrisi cinta…
Sahabat…
Lelaki mulia adalah orang yang mampu memuliakan wanita. Perempuan mulia adalah perempuan yang mampu menjaga kehormatan suaminya. Betapa mulianya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , ketika ia mengatakan dalam sabdanya, “Sebaik-baik kamu adalah yang melakukan hal terbaik bagi keluargamu. Dan aku (Nabi saw) adalah orang terbaik bagi keluargaku. Dan tidaklah memuliakan wanita, kecuali orang yang mulia dan tidaklah menghinakannya kecuali orang yang hina.”(HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar).
Dalam haditsnya yang lain, baginda Rasulullah mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu untuk berbuat baik bagi wanita. Kalian mengambilnya (menjadikannya istri) dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluannya dengan kalimat Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga berwasiat kepada kita untuk mendidik istri kita dalam ketakwaan, meluruskannya dengan kasih sayang. Memberikan kecukupan dalam kebutuhannya sehari-hari dan memberikan pakaian yang pantas baginya. “Taqwalah kalian kepada Allah dalam mengurus wanita, sebab dia ada dalam penjagaanmu. Kamu peringatkan kepadanya agar jangan ada orang lain yang kamu tidak suka duduk di atas hamparanmu. Kalau dia langgar aturanmu, boleh kamu pukul dia, tapi jangan sampai melukai. Dan hendaklah kamu cukupkan belanjanya, dan pakainnya dengan pantas.” (HR. Muslim)
Sahabat…
Pernikahan yang tidak dibangun dengan fondasi keimanan akan berakhir dengan kehinaan. Pernikahan sejatinya adalah ujian dari Allah bagi sepasang suami istri, ujian untuk melihat apakah mereka masih setia taat kepada Allah, ataukah ia terjerumus dalam gemerlapnya dunia. Rumah tangga yang bahagia tidak dibangun dengan fondasi harta yang melimpah, melainkan dengan dasar iman dan takwa.
Sahabat…
Istri dan anak-anak kita adalah pewaris kita kelak. Penerus cita-cita kita di masa depan. Kalau sekadar harta yang kita wariskan, ia akan punah dan musnah. Kalau sekadar pangkat dan kedudukan yang kita bangga-banggakan, ia akan sirna. Kita harus mewariskan ketakwaan, mewariskan keteladanan, dan menjaga agar anak dan keturunan kita tetap setia bersabar dalam barisan Islam, hingga akhir zaman. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam munajatnya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan anak-anak keturunanku orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat, Ya Rabb kami terimalah doa kami…” (Ibrahim:41).
Ya Allah, kami yang fakir, hamba-Mu yang tiada daya dan upaya, memohon kepada-Mu…
Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in…
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (Ash-Shaffat:100)
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu anak keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa…”(Ali Imran: 38)
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, dari istri-istri kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan:74)
Sahabat,
Semoga bahtera rumah tangga kita selalu berada dalam navigasi-Nya. Semoga biduk yang kita kayuh selalu berada dalam arus-Nya. Di mana layar terkembang, di sana pasti ada gelombang. Bersabarlah, dan tetap dalam ketaatan.
Akhukum fillah
Penulisa Arta Abu Azzam (https://artaazzamwordpresscom.wordpress.com)






