Corak Dakwah Persis: Mengedepankan Ilmu, Tajdid, dan Argumentasi dalam Menjawab Tantangan Zaman

Oleh : Tim Redaksi
Persatuan Islam (Persis) dikenal sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia yang memiliki corak dakwah berbasis ilmu, Al-Qur’an dan Sunnah, tajdid, pendidikan, serta argumentasi ilmiah. Sejak berdiri pada 12 September 1923 di Bandung, Persis terus mengembangkan dakwah melalui pendidikan, kajian keislaman, penerbitan, pembinaan kader, dan dialog intelektual.
Berbeda dengan dakwah yang hanya mengandalkan popularitas, corak dakwah Persis lebih menekankan pada pemahaman agama yang memiliki dasar dalil, argumentasi yang kuat, serta kemampuan menjawab persoalan umat secara rasional dan ilmiah.
Apa Itu Persatuan Islam (Persis)?
Persatuan Islam atau Persis adalah organisasi kemasyarakatan Islam yang lahir dengan semangat tajdid atau pembaruan. Gerakan ini mengajak umat Islam untuk kembali memahami dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam perjalanan sejarahnya, Persis dikenal aktif dalam berbagai bidang, antara lain:
- Dakwah Islam
- Pendidikan
- Kajian keislaman
- Penerbitan buku dan majalah
- Pembinaan ulama dan intelektual Muslim
- Pengembangan lembaga pendidikan Islam
Salah satu karakter utama Persis adalah menjadikan ilmu sebagai fondasi utama dalam berdakwah. Karena itu, persoalan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui seruan, tetapi juga melalui kajian, dalil, diskusi, dan penjelasan yang argumentatif.
5 Ciri Utama Corak Dakwah Persis
1. Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah
Ciri paling utama dari dakwah Persis adalah upaya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan utama dalam memahami ajaran Islam.
Sebagai gerakan tajdid, Persis berusaha mengajak umat untuk melakukan pemurnian pemahaman keagamaan dari berbagai praktik yang dianggap tidak memiliki dasar yang kuat.
Karena itu, setiap pandangan keagamaan diupayakan memiliki landasan dalil yang jelas. Pendekatan ini menjadikan Persis dikenal sebagai organisasi Islam yang memiliki perhatian besar terhadap kualitas argumentasi keilmuan.
Dakwah tidak cukup hanya dengan menyampaikan pendapat. Bagi Persis, pemahaman agama perlu dibangun berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Memiliki Tradisi Keilmuan yang Kuat
Ilmu menjadi salah satu identitas penting dalam sejarah dakwah Persis.
Sejak masa awal berdirinya, Persis membangun budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan mengkaji berbagai persoalan keislaman. Tradisi ini melahirkan banyak ulama dan intelektual yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.
Salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah Persis adalah Ahmad Hassan atau A. Hassan. Ia dikenal sebagai ulama yang produktif dan memiliki perhatian besar terhadap berbagai bidang keislaman, seperti:
- Tafsir
- Hadis
- Fikih
- Akidah
- Perbandingan agama
- Pemikiran Islam
- Polemik keagamaan
Karya dan pemikiran A. Hassan menjadi bagian penting dari perkembangan tradisi intelektual Islam di Indonesia.
3. Mengedepankan Argumentasi dalam Berdakwah
Salah satu ciri khas dakwah Persis adalah penggunaan argumentasi, dialog, dan kajian ilmiah dalam menyampaikan gagasan.
Dalam sejarahnya, A. Hassan dikenal sering berdiskusi dan berdebat dengan berbagai kalangan. Perdebatan tersebut tidak dilakukan dengan kekerasan, tetapi melalui penyampaian dalil, logika, dan argumentasi.
Tradisi ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dapat dihadapi dengan cara yang lebih konstruktif, yaitu melalui:
- Dialog
- Kajian
- Diskusi
- Penelitian
- Argumentasi berdasarkan dalil
Corak dakwah semacam ini menjadi salah satu karakter kuat Persis yang terus relevan hingga saat ini.
4. Responsif terhadap Persoalan Umat
Dakwah Persis tidak hanya berfokus pada persoalan internal umat Islam. Organisasi ini juga memiliki tradisi untuk merespons berbagai tantangan yang dihadapi umat.
Salah satu contoh sejarahnya adalah pembentukan Komite Pembela Islam di Bandung pada tahun 1929. Komite tersebut dibentuk untuk memberikan jawaban terhadap berbagai kritik dan serangan pemikiran terhadap Islam yang berkembang pada masa itu.
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Persis memiliki sifat yang responsif. Dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran, tetapi juga berusaha menjawab persoalan nyata yang berkembang di tengah masyarakat.
5. Menjadikan Pendidikan sebagai Sarana Dakwah
Persis memiliki pandangan bahwa perubahan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.
Karena itu, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam gerakan dakwah Persis. Berbagai lembaga pendidikan dikembangkan untuk membentuk generasi Muslim yang memiliki pemahaman agama sekaligus kemampuan menghadapi perkembangan zaman.
Lembaga pendidikan yang dikembangkan antara lain:
- Pesantren
- Madrasah
- Sekolah
- Ma’had Aly
- Perguruan tinggi
- Universitas
Melalui pendidikan, dakwah tidak hanya dilakukan dalam bentuk ceramah, tetapi juga melalui proses pembentukan karakter, intelektualitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Tokoh Penting dalam Sejarah Dakwah Persis
Ahmad Hassan: Ulama dengan Tradisi Argumentasi yang Kuat
Ahmad Hassan merupakan salah satu tokoh yang sangat erat kaitannya dengan sejarah Persis.
Ia dikenal sebagai ulama yang produktif, kritis, dan memiliki kemampuan argumentasi yang kuat. Pemikirannya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dakwah dan pemikiran Islam modern di Indonesia.
A. Hassan juga dikenal karena produktivitasnya dalam menulis dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan keislaman.
Mohammad Natsir: Intelektual Muslim dan Negarawan
Mohammad Natsir merupakan salah satu murid penting Ahmad Hassan.
Selain dikenal sebagai tokoh politik dan negarawan, Natsir juga merupakan intelektual Muslim yang aktif menyampaikan gagasan tentang Islam, negara, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.
Kontribusinya tidak hanya dalam bidang dakwah, tetapi juga dalam perjalanan sejarah Indonesia. Salah satu gagasan pentingnya adalah Mosi Integral 1950 yang berperan dalam memperkuat kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tegas dalam Prinsip, Santun dalam Berdakwah
Persis sering dipandang sebagai organisasi yang memiliki sikap tegas dalam persoalan keagamaan. Namun, ketegasan dalam prinsip tidak selalu berarti kekerasan dalam cara berdakwah.
Dalam praktiknya, dakwah yang berbasis ilmu dapat dilakukan melalui pendekatan yang damai, dialogis, dan edukatif.
Perbedaan pandangan seharusnya tidak selalu berujung pada permusuhan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk melakukan kajian dan memperdalam pemahaman.
Karena itu, corak dakwah Persis dapat dipahami melalui beberapa karakter berikut:
- Kritis terhadap persoalan umat
- Berpegang pada dalil
- Terbuka terhadap diskusi ilmiah
- Menjunjung adab dalam berdakwah
- Mengutamakan pendidikan
- Berorientasi pada pembinaan masyarakat
Tantangan Dakwah Persis di Era Digital
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan.
Saat ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial, video, podcast, website, dan berbagai platform digital. Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang besar bagi dakwah. Namun, di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tantangan berupa banyaknya informasi yang belum tentu benar.
Dalam situasi seperti ini, dakwah berbasis ilmu menjadi semakin penting.
Persis perlu terus mengembangkan dakwah melalui berbagai media modern, seperti:
- Website
- Media sosial
- Video edukasi
- Podcast
- Buku digital
- Kajian online
- Platform pembelajaran digital
Namun, perkembangan teknologi tetap perlu diiringi dengan karakter utama dakwah Persis, yaitu kedalaman ilmu, kekuatan argumentasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Mengapa Corak Dakwah Persis Masih Relevan?
Corak dakwah Persis tetap relevan karena masyarakat modern membutuhkan lebih dari sekadar informasi keagamaan.
Di tengah maraknya informasi yang cepat tetapi belum tentu benar, umat membutuhkan dakwah yang:
- Memiliki dasar ilmu.
- Menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Mampu menjawab persoalan kontemporer.
- Terbuka terhadap dialog.
- Mengedepankan akhlak dan adab.
Pendekatan dakwah yang menggabungkan ilmu, pendidikan, argumentasi, dan akhlak memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang kritis sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Pelajaran Penting dari Dakwah Persis
Perjalanan Persatuan Islam memberikan beberapa pelajaran penting bagi perkembangan dakwah Islam di Indonesia.
Ilmu adalah Fondasi Dakwah
Dakwah yang kuat membutuhkan pemahaman yang mendalam. Seorang dai tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga harus memahami materi yang disampaikan.
Perbedaan Dapat Diselesaikan dengan Dialog
Perbedaan pendapat tidak selalu harus menjadi sumber konflik. Dengan ilmu, adab, dan dialog, perbedaan dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan.
Pendidikan adalah Investasi Jangka Panjang
Dakwah melalui pendidikan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan karena membentuk generasi yang memiliki ilmu dan karakter.
Dakwah Harus Mampu Menjawab Perubahan Zaman
Dakwah perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan prinsip dasar dan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Corak Dakwah Persis
Apa yang dimaksud dengan corak dakwah Persis?
Corak dakwah Persis adalah pendekatan dakwah yang menekankan Al-Qur’an dan Sunnah, tajdid, ilmu pengetahuan, pendidikan, dialog, serta argumentasi dalam menyampaikan ajaran Islam.
Apa ciri khas dakwah Persis?
Ciri khas dakwah Persis antara lain berbasis dalil, memiliki tradisi keilmuan yang kuat, mengedepankan argumentasi, responsif terhadap persoalan umat, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana dakwah.
Siapa tokoh penting dalam sejarah Persis?
Beberapa tokoh penting dalam sejarah Persis antara lain Ahmad Hassan dan Mohammad Natsir. Keduanya memiliki kontribusi besar dalam perkembangan pemikiran, pendidikan, dan dakwah Islam di Indonesia.
Apakah dakwah Persis menggunakan pendekatan kekerasan?
Tidak. Corak dakwah Persis lebih dikenal melalui kajian, argumentasi, dialog, pendidikan, dan penyampaian gagasan berdasarkan dalil.
Mengapa dakwah berbasis ilmu penting di era digital?
Dakwah berbasis ilmu penting karena masyarakat saat ini menghadapi arus informasi yang sangat cepat. Ilmu membantu umat membedakan informasi yang benar, memahami persoalan secara lebih mendalam, dan menghindari penyebaran informasi keagamaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan
Corak dakwah Persis dibangun di atas tiga kekuatan utama: ilmu, tajdid, dan argumentasi.
Sejak berdiri pada tahun 1923, Persatuan Islam terus memberikan kontribusi dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia melalui pendidikan, kajian keilmuan, penerbitan, pembinaan kader, dan dialog intelektual.
Dakwah Persis menunjukkan bahwa menyampaikan ajaran Islam tidak hanya membutuhkan semangat, tetapi juga ilmu, kemampuan berpikir, akhlak, dan kesiapan untuk menjawab tantangan zaman.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, pendekatan dakwah berbasis ilmu, literasi, pendidikan, serta argumentasi ilmiah tetap memiliki peran penting dalam membangun masyarakat Muslim yang kritis, berpengetahuan, dan berakhlak.






