Artikel Islami

Buya Hamka: Ulama yang Mengutamakan Akidah di Atas Segalanya

wmremove-transformed (9)

Oleh : Tim Redaksi

Nama Buya Hamka selalu dikenang sebagai salah satu ulama terbesar Indonesia. Sosok yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini bukan hanya dikenal sebagai mufasir, sastrawan, dan cendekiawan Muslim, tetapi juga sebagai figur yang konsisten menjaga akidah umat dalam berbagai situasi.

Keteguhan prinsipnya membuat Hamka dihormati oleh banyak kalangan. Bahkan ketika menghadapi tekanan politik maupun perbedaan pandangan, ia tetap memilih jalan dakwah dengan penuh hikmah tanpa mengorbankan keyakinan yang diyakininya benar. (inay.asadth95.web.id)


Keteladanan Buya Hamka dalam Berdakwah

Salah satu sisi yang paling menonjol dari Buya Hamka adalah kelembutan akhlaknya. Banyak orang datang ke rumahnya untuk meminta nasihat, baik terkait persoalan keluarga, kehidupan, maupun agama.

Salah satu kisah yang sering dikenang adalah ketika seorang pemuda datang untuk memeluk Islam sebelum menikah. Meski mengetahui latar belakang keluarganya yang pernah menjadi pengkritiknya, Hamka tetap menyambut dengan ramah, membimbingnya memahami dasar-dasar Islam, bahkan menitipkan salam kepada ayah sang gadis. Sikap tersebut menunjukkan bahwa dakwah menurut Hamka dibangun di atas kasih sayang, bukan dendam pribadi. (Azzam.bookstore.com)


Ulama yang Hidup Bersama Umat

Buya Hamka memandang ulama bukan sekadar pemberi ceramah, tetapi juga tempat umat mengadu dan mencari solusi.

Rumahnya di Jakarta hampir setiap hari didatangi masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada yang meminta nasihat, berkonsultasi mengenai rumah tangga, hingga meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan hidup.

Baginya, menjadi ulama berarti hadir di tengah masyarakat, mendengarkan keluhan mereka, serta memberikan bimbingan berdasarkan ajaran Islam.

Inilah salah satu alasan mengapa Buya Hamka dikenang sebagai ulama yang dekat dengan umat, bukan hanya dikenal lewat karya-karyanya. (Azzam.bookstore.com)


Ketegasan Buya Hamka dalam Menjaga Akidah

Selain dikenal santun, Hamka juga memiliki ketegasan ketika menyangkut persoalan akidah.

Dalam berbagai ceramah dan khutbahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian akidah Islam serta membedakan toleransi sosial dengan keyakinan agama.

Sikap tersebut mencapai puncaknya ketika ia mempertahankan pandangan keagamaannya meski mendapat tekanan dari berbagai pihak. Hamka memilih mempertahankan prinsip yang diyakininya daripada mempertahankan jabatan.

Keputusan itu menjadi salah satu bukti bahwa bagi Hamka, amanah dakwah berada di atas kepentingan pribadi maupun kedudukan. (Azzam.bookstore.com)


Mengutamakan Prinsip daripada Jabatan

Dalam perjalanan hidupnya, Buya Hamka pernah dipercaya memimpin lembaga keagamaan tingkat nasional.

Namun ketika muncul perbedaan prinsip yang menyangkut persoalan akidah, ia memilih mengundurkan diri daripada menarik kembali pandangan yang diyakininya berdasarkan syariat.

Keputusan tersebut sering dijadikan contoh tentang integritas seorang ulama yang tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan sesuai keyakinan.


Warisan Pemikiran Buya Hamka

Selain berdakwah, Buya Hamka meninggalkan warisan intelektual yang sangat besar.

Beberapa karya monumentalnya antara lain:

  • Tafsir Al-Azhar
  • Tasawuf Modern
  • Pribadi Hebat
  • Lembaga Budi
  • Di Bawah Lindungan Ka’bah
  • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Melalui karya-karya tersebut, Hamka berhasil memadukan nilai-nilai Islam dengan persoalan kehidupan modern sehingga tetap relevan dibaca lintas generasi. (inay.asadth95.web.id)


Pelajaran dari Keteladanan Buya Hamka

Ada beberapa nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Buya Hamka, di antaranya:

  • Mengutamakan prinsip di atas kepentingan pribadi.
  • Berdakwah dengan hikmah, kasih sayang, dan akhlak yang mulia.
  • Menjadikan ilmu sebagai sarana membangun umat.
  • Berani mempertahankan keyakinan meski menghadapi tekanan.
  • Tetap rendah hati meskipun dihormati banyak orang.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Buya Hamka bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga teladan bagi para dai, pendidik, dan generasi muda.


Relevansi Pemikiran Buya Hamka di Era Modern

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, pemikiran Buya Hamka tetap memiliki tempat.

Beliau mengajarkan bahwa dakwah memerlukan keseimbangan antara keluasan ilmu, keteguhan prinsip, dan kelembutan akhlak. Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa seorang Muslim dapat tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diyakininya.

Warisan intelektual dan keteladanan Hamka terus menjadi rujukan dalam dunia pendidikan, dakwah, dan literasi Islam di Indonesia.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Deskripsi
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Beli
Click outside to hide the comparison bar
Compare