Oleh : Tim Redaksi
Allah berfirman,
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat). (Az-Zumar: 18)
Ayat ini bicara tentang ciri orang-orang berakal adalah dimulai dari kepandaian mendengar lalu mengikuti yang terbaik darinya. Kerja mendengar adalah proses pertama memasukan nasihat, ilmu, wawasan, teguran sehingga turun menjadi akhlak.
Salah satu jalan menuju kearifan haruslah pandai menjaga lidah dan terbiasa mendengar. Allah menjadikan bagi manusia dua telinga, dua mata dan satu mulut. Itu artinya, ia harus lebih banyak mendengar daripada berbicara, atau dua kali mendengar, dua kali melihat, sekali berbicara. Sekiranya pun harus berbicara, harus dipastikan yang keluar dari mulut adalah emas, perak, perunggu dan bukan racun.
Dalam tradisi Islam seorang muslim terbiasa aktivitas mendengar seperti mendengar adzan, ceramah, khutbah, diskusi, dll. Berikut ini beberapa kisah tentang kepandaian mendengar.
Nabi Mendengar Bacaan Abdullah bin Mas’ud
Sahabat Ibnu Mas’ud bercerita, Suatu hari, Nabi Muhamad berkata, “Bacalah Al-Qur`an kepadaku.”
Ibnu Mas’ud, “Wahai Rasul, bagaimana aku harus membacakannya kepadamu, padahal Al-Qur`an diturunkan kepadamu.”
Beliau menjawab, “Sungguh, aku ingin mendengar Al-Qur`an dari orang lain.” Setelah itu, aku pun membaca surah An-Nisaa`. Ketika sampai pada ayat “Maka bagaimanakah jika Kami mendatangkan seorang saksi dari masing-masing umat dan engkau sebagai saksi atas mereka.”
Beliau berkata, “Cukup, sampai di sini.” Ketika menoleh, aku melihat beliau menangis bercucuran air mata. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Umar Mendengar Perempuan Tua
Suatu hari, Khalifah Umar keluar dari masjid bersama Jarud, seorang hamba sahaya. Tiba-tiba, seorang nenek tampak di tengah jalan yang dilalui Umar. Ia berjalan bungkuk karena usia.
Selesai saling mengucapkan salam, nenek itu berkata pada Khalifah Umar, “Wahai, Umar! Saya tahu, dahulu kamu dinamai Umair di Pasar Ukazh. Kamu sering menakut-nakuti anak-anak kecil dengan tongkatmu. Kamu lalu dinamai Umar. Kamu lalu dinamai Amirul Mukminin.”
Sang nenek melanjutkan nasihatnya, ”Wahai Umar, bertakwalah kamu kepada Allah dalam memimpin rakyat! Ketahuilah, siapa yang takut pada ancaman niscaya yang jauh akan didekatkan kepadanya dan siapa yang takut pada kematian niscaya ia akan khawatir umurnya digunakan untuk hal-hal yang sia-sia.”
Ucapan nenek itu dipotong Jarud, “Wahai, wanita tua! engkau telah menyampaikan pesan terlalu banyak kepada Amirul Mukminin.”
Jarud juga berkata pada Khalifah Umar, “Wahai, Amirul Mukminin. Tidak ada gunanya kita menghabiskan waktu berbicara dengan wanita tua ini. Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan kita.”
Khalifah Umar berkata kepada Jarud, “Celaka Engkau, wahai Jarud. Apakah kamu mengenal siapa wanita itu?”
Jarud, ”Tidak, aku tidak mengetahui siapa nenek ini.”
Khalifah Umar, ”Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah.”
Jarud, ”Siapa Khaulah binti Tsa’labah itu wahai Khalifah?”
Khalifah Umar, ”Ia seorang perempuan yang pengaduannya langsung didengar oleh Allah. Aduannya sampai angit. Karena itu, Umar lebih berhak mendengar ucapannya. Demi Allah! Andai nenek ini terus melanjutkan pembicaraannya sampai tengah malam, aku tak akan pergi kecuali untuk menunaikan shalat. Selesai shalat, aku akan kembali menemuinya. Allah saja mendengarkan keluhannya. Mengapa Umar bin Al-Khatab, hamba yang begitu lemah ini, tidak mendengarnya.”
(The Great Leader of Umar bin Al-Khathab, Muhammad Ash-Shallabi)







