Oleh : Tim Redaksi
Allah berfirman, “Sungguh Allah, Dia-lah Pemberi rezeki yang memiliki kekuatan lagi sangat kukuh.” (Adz-Dzariyat: 58)
Alkisah, seorang laki-laki hidup di sebuah perkampungan Arab Badui. Suatu saat, laki-laki itu jatuh ke dalam sumur. Semua orang meyakini bahwa ia telah mati. Lalu, beberapa orang turun ke dalam sumur untuk mengeluarkannya. Ternyata ia masih hidup. Ajaibnya, ia tidak terkena benturan apa pun.
Orang-orang kemudian mendudukkan laki-laki itu di pinggir sumur. Beberapa dari mereka memberinya secangkir susu untuk diminum agar kondisinya membaik. Selesai minum susu, orang-orang bertanya, “Bagaimana ceritanya kamu bisa terjatuh ke dalam sumur ini? Padahal di sekitar sumur ini sangat terang?”
Laki-laki itu menjelaskan bagaimana ia terjatuh. Awalnya, ia hanya ingin berpegangan pada suatu benda di pinggir sumur yang dikira keras. Ternyata benda itu rapuh. Ia lalu mencontohkan gerakan sebelum kejadian yang dialaminya. Ia pun berdiri di pinggir sumur, lalu jatuh ke dalam sumur untuk kedua kalinya. Ia lantas meninggal dunia.
Perhatikan baik-baik rezeki lelaki badui ini. Seakan-akan, laki-laki itu keluar dari sumur itu hanya untuk minum secangkir susu yang menjadi jatah rezekinya yang belum ia selesaikan. Setelah itu jatah hidupnya sudah selesai.
Demikianlah, rezeki kita sudah Allah atur sedemikian rupa, tidak akan pernah meleset dan tertukar. Iri dengan rezeki dan nikmat orang lain adalah hal yang tidak perlu. Kita tidak pernah tahu apa yang telah Allah ambil darinya. Rezeki itu bukan hanya harta. Kesehatan, teman baik, ilmu pengetahuan, dan lain-lain juga termasuk rezeki. Saat kita bisa bangun untuk shalat subuh atau membuatkan makanan dan minuman untuk orangtua kita, maka itu juga menjadi rezeki kita.
Sumber: Tadabbur Al-Qur’an untuk Anak, Muhammad Yasir







