Oleh : Tim Redaksi
Pernahkah kita berpikir, berapa lama sebenarnya kita akan hidup di dunia?
Sebagian orang sibuk mengejar harta, jabatan, dan kesenangan dunia hingga lupa bahwa kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara. Padahal, Islam mengajarkan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang kekal di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada sahabat Ibnu Umar:
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menjadi pengingat penting bahwa seorang muslim seharusnya tidak terlalu terikat dengan kehidupan dunia.
Apa Makna Hadits “Jadilah Seperti Orang Asing atau Pengembara”?
Ketika seseorang sedang bepergian atau merantau, ia tidak akan terlalu sibuk menghias tempat singgahnya. Ia tahu bahwa suatu saat akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang sebenarnya.
Begitu pula kehidupan di dunia.
Dunia hanyalah tempat sementara sebelum manusia kembali menghadap Allah SWT. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.
Sahabat Ibnu Umar sangat memahami nasihat Rasulullah ﷺ ini. Beliau berkata:
“Jika engkau berada pada waktu sore, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada pada waktu pagi, jangan menunggu sore. Gunakan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan gunakan waktu hidupmu sebelum matimu.”
Pesan ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan setiap kesempatan yang Allah berikan.
Dunia Hanya Tempat Singgah, Akhirat Adalah Tujuan
Banyak orang hidup seolah-olah akan tinggal selamanya di dunia. Mereka menunda ibadah, menunda kebaikan, bahkan menunda taubat.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang.
Karena itu, Islam mengajarkan agar kita selalu mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Bekal tersebut bukan berupa harta atau popularitas, melainkan:
- Iman yang kuat
- Amal saleh
- Akhlak yang baik
- Sedekah
- Ilmu yang bermanfaat
- Amal jariyah
Semua itulah yang akan menemani manusia ketika meninggalkan dunia.
Kisah Rasulullah ﷺ tentang Bangkai Anak Kambing
Untuk menjelaskan betapa rendahnya nilai dunia dibanding akhirat, Rasulullah ﷺ pernah memberikan sebuah pelajaran yang sangat menyentuh.
Suatu hari beliau melewati pasar dan melihat bangkai anak kambing yang memiliki cacat pada telinganya. Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada para sahabat:
“Siapa di antara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?”
Para sahabat menjawab bahwa mereka tidak menginginkannya meskipun diberikan secara cuma-cuma karena tidak memiliki manfaat.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di pandangan kalian.”
Hadits ini bukan berarti dunia tidak penting. Namun, dunia tidak boleh menjadi sesuatu yang lebih dicintai daripada Allah dan kehidupan akhirat.
Tanda Seseorang Terlalu Mencintai Dunia
Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
1. Selalu Menunda Ibadah
Merasa ada waktu nanti untuk memperbaiki diri padahal usia tidak ada yang tahu.
2. Mengukur Kesuksesan Hanya dari Materi
Menganggap kebahagiaan hanya berasal dari uang, jabatan, atau aset.
3. Sibuk Dunia hingga Melupakan Akhirat
Seluruh waktu habis untuk bekerja dan mencari keuntungan tanpa menyisihkan waktu untuk Allah.
4. Takut Kehilangan Dunia Melebihi Takut Kehilangan Akhirat
Merasa sangat sedih ketika kehilangan harta tetapi biasa saja ketika meninggalkan salat atau ibadah.
Cara Memanfaatkan Waktu Sebelum Terlambat
Karena hidup sangat singkat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan mulai sekarang:
Perbanyak Amal Saleh
Lakukan kebaikan setiap hari, meskipun kecil.
Jaga Salat Tepat Waktu
Salat adalah pondasi utama kehidupan seorang muslim.
Perbanyak Sedekah
Sedekah menjadi investasi yang terus mengalir pahalanya.
Menuntut Ilmu
Ilmu yang bermanfaat akan menjadi cahaya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Perbanyak Mengingat Kematian
Mengingat kematian bukan untuk membuat takut, tetapi agar hidup lebih bermakna.
Hikmah Hidup di Dunia Hanya Sementara
Dari hadits ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
- Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
- Waktu adalah nikmat yang sangat berharga dan tidak bisa kembali.
- Jangan menunda kebaikan karena tidak ada jaminan masih hidup esok hari.
- Akhirat adalah tujuan utama seorang muslim.
- Kehidupan yang sukses adalah kehidupan yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat.
Kesimpulan
Hidup di dunia hanya sementara. Tidak ada manusia yang akan tinggal selamanya di bumi ini. Karena itu, jangan habiskan seluruh energi hanya untuk mengejar urusan dunia.
Gunakan waktu sehat sebelum datang sakit, manfaatkan masa muda sebelum tua, dan gunakan kesempatan hidup sebelum kematian datang menjemput.
Seorang muslim yang cerdas adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai ladang amal dan akhirat sebagai tujuan utama.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan yang akan ditanya, tetapi apa yang telah kita persiapkan untuk bertemu Allah SWT.







