Oleh : Muhamad Yasir Lc
Sobat cilik, berikut ini kisah menarik tentang Salman Al-Farisi yang meninggalkan negerinya hanya untuk mencari agama tauhid. Salman adalah seorang pemuda yang berasal dari bangsa Persia, yaitu dari sebuah desa bernama Jayyun di kota Isfahaan. Saat ini Isfahan adalah salah satu kota di Iran. Penduduk Persia saat itu beragama majusi (menyembah api), termasuk Salman dan keluarganya. Penganut agama majusi akan menugaskan salah seorang di antara mereka untuk menjaga api agar tetap menyala, sehingga mereka mereka tetap memiliki tuhan.
Ayah Salman, seorang kepala suku. Ia sangat menyayangi Salman. Pada suatu hari, Salman keluar rumah dan melewati sebuah gereja tempat orang orang Nasrani beribadah. Seumur hidupnya, Salman memang dibatasi ayahnya dari dunia luar. Rasa penasaran membuat Salman masuk ke dalam gereja dan melihat apa yang mereka lakukan. Ia berkata dalam hati, “Wah, ini agama baru yang lebih bagus dari agamaku sebelumnya.” Selesai orang-orang Nasrani beribadah, Salman segera menemui sang pendeta. “Wahai Tuan, aku menyukai agama ini? Aku ingin mempelajarinya darimu,” kata Salman kepada pendeta itu. “Ikutlah aku ke ruanganku,” jawab sang pendeta.
Setelah masuk ke ruangan itu, Salman baru mengetahui bahwa pendeta itu sebenarnya berperangai buruk. Ia memerintahkan jamaahnya berinfak emas dan perak. Namun setelah emas dan perak terkumpul, pendeta itu malah menguburnya di tempat rahasia. Hal itu terus terjadi sampai si pendeta meninggal dunia. Salman membenci perbuatan sang pendeta.
Setelah itu, seorang pendeta baru datang menggantikan pendeta yang telah wafat untuk memimpin gereja. Pendeta baru ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia, dan sangat memperhatikan masalah akhirat. “Aku melihat banyak kebaikan pada pendeta ini. Ia jujur, sederhana dan rajin beribadah. Aku pun sangat mencintainya,” kata Salman dalam hati.
“Wahai pendeta, tunjukkan kepadaku seorang alim pada masa ini yang dapat dipercaya!“ kata 31 Salman kepada pendeta itu. “Wahai Salman, aku mendengar bahwa di tanah Arab, telah ada seorang nabi yang sangat terpecaya. Ia diutus untuk meneruskan agama Ibrahim. Aku sarankan agar engkau pergi menemuinya,” ujar sang pendeta. “Adakah tanda-tanda yang engkau berikan kepadaku, agar dengan tanda itu aku dapat mengenalnya bahwa ia seorang nabi yang diutus dari langit?” tanya Salman z.
“Ya, tanda-tanda kenabian itu ada tiga. Ia tidak menerima sedekah, memakan hadiah, dan di antara dua pundaknya terdapat tanda kenabian,” jawab pendeta itu. Kemudian, Salman berpetualang ke beberapa negara untuk mencari Nabi yang disebutkan itu hingga akhirnya ia sampai di tanah Arab. Sesampainya di sana, Salman mencari nabi Muhammad n dan para sahabatnya. “Wahai Muhammad, aku telah mendengar bahwa engkau seorang yang baik. Engkau juga mempunyai sahabat yang membutuhkan makanan. Karena itu, ambillah sedekah ini dariku. Sebab, aku melihat ia lebih pantas diberikan kepada kalian,“ ujar Salman saat bertemu dengan Nabi Muhammad n.
“Makanlah sedekah ini. Sungguh aku tidak memakannya,” kata Nabi Muhammad n kepada para sahabatnya. “Ini tanda kenabian pertama yang dikatakan oleh pendeta itu,” kata Salman dalam hati. Karena melihat Nabi Muhammad n tidak menerima sedekah, Salman menyiapkan hadiah khusus. Lalu, ia datang kembali menemui Nabi Muhammad n.
“Wahai Muhammad, aku melihatmu tidak memakan sedekah. Sekarang aku datang membawakan hadiah untukmu,” kata Salman kepada Nabi Muhammad n. Nabi Muhammad menerima hadiah itu. Beliau lalu memakan hadiah itu sebagian dan sebagian lagi beliau bagikan kepada para 32 sahabatnya. Beliau juga meminta para sahabat untuk menyantap hadiah itu. “Ini tanda kenabian kedua yang dikatakan oleh pendeta itu,” kata Salman dalam hati.
Pada hari berikutnya, Salman datang ke pemakaman Baqi. Saat itu Nabi Muhammad n tengah menghadiri pemakaman salah seorang sahabatnya. Salman sengaja berjalan di belakang beliau untuk melihat pundak beliau. Tapi, Salman tidak bisa melihatnya karena tertutup pakaian Nabi Muhammad n. Namun, ternyata Nabi n menyadari gerak-gerik Salman. “Wahai Salman, aku mengetahui apa yang engkau inginkan. Sekarang lihatlah, ini adalah tanda kenabian yang diberikan kepadaku,” ujar beliau seraya melepaskan kain dari punggungnya dan membiarkan Salman melihat tanda itu.
ditunjukkan oleh Nabi, Pada tanda itu tertulis kalimat, “Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.” “Inilah tanda ketiga kenabian yang dikatakan oleh sang pendeta itu,” gumam Salman. Seketika Salman menangis sambil memeluk Nabi Muhammad n. “Wahai Rasulullah, engkau telah mengeluarkan diriku dari kegelapan menuju cahaya Islam,” kata Salman kemudian. Ia pun menyatakan diri masuk Islam.[]
Sumber: Adaptasi dari Mausu’ah qishash As-Salaf, Syaikh Ahmad bin Salim Badwilani, Dar Hadharah linasyr wa tauzi.
Tahukah Kamu?
Salman Al-Farisi masuk Islam antara periode setelah Perang Uhud (625 Masehi) dan sebelum Perang Khandaq (627 Masehi). Di Perang Khandaq, pasukan muslim berhasil meraih kemenangan berkat strategi pembangunan parit. Strategi tersebut dicetuskan oleh Salman Al-Farisi. (As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’i al-Mashadir al-Ashliyyah: Dirasah Tahliyyah, terj., 2005: 376).
Judul Buku: Berjalan Jauh Mencari Ilmu
Penulis: Muhammad Yasir







