Oleh : Tim Redaksi
Mengapa Dakwah Tidak Boleh Berorientasi pada Popularitas?
Dalam dunia dakwah, keberhasilan tidak seharusnya diukur dari banyaknya pujian, penggemar, atau popularitas seorang dai. Dakwah yang sejati adalah dakwah yang melahirkan pengikut, yaitu orang-orang yang memahami nilai, ilmu, dan prinsip Islam, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, dakwah yang hanya melahirkan penggemar berisiko menjadikan sosok dai sebagai pusat perhatian, bukan ajaran Islam itu sendiri. Ketika ukuran dakwah bergeser menjadi ketenaran pribadi, maka ruh dakwah bisa melemah.
Nasihat Syaikh Ahmad Soorkati tentang Jalan Dakwah
Suatu ketika, seorang mubaligh muda datang bersilaturahim kepada Syaikh Ahmad Soorkati. Sebagai seorang alim dan pendiri organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah, beliau diminta nasihat tentang perjuangan di jalan dakwah.
Dengan penuh kelembutan, Syaikh Soorkati berkata:
“Jalan yang engkau pilih, wahai anakku, adalah jalan kefakiran dan kepapaan, tetapi agung, karena itu adalah jalan yang ditempuh para nabi dan rasul.”
Nasihat ini mengingatkan bahwa dakwah bukan jalan menuju kemewahan dunia. Dakwah adalah jalan pengabdian, perjuangan, dan pengorbanan demi tegaknya kalimat Allah.
Pandangan KH Mohammad Isa Anshari tentang Mujahid Dakwah
Kisah tersebut dikisahkan oleh KH Mohammad Isa Anshari dalam bukunya Mujahid Dakwah. Isa Anshari menegaskan bahwa akidah Islamiyah tidak menjanjikan kesenangan dunia sebagai tujuan utama perjuangan.
Menurut beliau, seorang mujahid dakwah adalah orang yang menyerahkan dirinya tanpa syarat demi tegaknya kalimatullah. Karena itu, seorang dai harus menyadari bahwa tampilnya ia sebagai juru dakwah bukan karena pujian manusia, melainkan karena amanah dari Allah SWT.
Kekuatan Dai Menurut Mohammad Natsir
Dalam karya monumentalnya Fiqhud Dakwah, Mohammad Natsir menjelaskan bahwa kekuatan seorang dai tidak terletak pada pesona pribadinya.
“Kekuatan seorang dai bukan pada pesona pribadinya, tapi pada kekuatan dakwahnya, kekuatan dalam menyampaikan hujjah yang bisa diterima oleh akal sehat, dan daya panggilnya yang bisa menjemput jiwa dan rasa.”
Artinya, ukuran keberhasilan dakwah bukanlah seberapa terkenal seorang dai, melainkan seberapa kuat hujjahnya dan seberapa dalam pengaruh ilmunya terhadap umat.
Bahaya Takabbur, Riya, dan Ujub dalam Dakwah
Mohammad Natsir juga mengingatkan bahwa jiwa seorang dai harus merdeka dari sifat ananiyah atau egoisme pribadi. Egoisme ini dapat melahirkan sikap takabbur, riya, dan ujub.
Beberapa bentuk ananiyah yang dapat merusak dakwah antara lain:
- Hubbul maal atau cinta harta.
- Hubbul jaah atau cinta pangkat dan jabatan.
- Keinginan untuk dipuji dan dilihat banyak orang.
- Mendekat kepada penguasa demi kepentingan pribadi.
- Menjual tampang atau popularitas dalam berdakwah.
Jika sifat-sifat tersebut menguasai hati seorang mubaligh, maka dakwah dapat kehilangan kemurniannya. Lidah menjadi kaku untuk menyampaikan kebenaran, dan jiwa menjadi lemah menghadapi tekanan duniawi.
Pengikut Berbeda dengan Penggemar
Ustadz Syuhada Bahri menjelaskan perbedaan penting antara dai yang melahirkan pengikut dan dai yang melahirkan penggemar.
Menurut beliau, dai yang melahirkan pengikut adalah dai yang memberikan ilmu dan nilai. Sedangkan dai yang melahirkan penggemar hanya mengandalkan kemampuan hiburan atau entertainment.
Perbedaannya sangat jelas:
- Pengikut lahir karena ilmu, nilai, dan prinsip yang diajarkan.
- Penggemar lahir karena pesona pribadi, gaya bicara, atau hiburan.
- Pengikut tetap berpegang pada nilai meskipun orangnya tidak lagi ada.
- Penggemar mudah meninggalkan dakwah ketika sosok yang dikagumi tidak lagi sesuai harapan mereka.
Karena itu, dakwah yang kokoh adalah dakwah yang membangun pemahaman, bukan sekadar kekaguman.
Prinsip Dakwah Rabbaniyah Menurut Syaikh Fathi Yakan
Tokoh pergerakan Islam internasional, Syaikh Fathi Yakan, menyebutkan bahwa seorang dai harus melakukan uzlah maknawi, yaitu mengisolasi diri dari hawa nafsu duniawi dan sistem jahiliyah.
Seorang dai membawa prinsip-prinsip dakwah Rabbaniyah, yaitu konsep, hukum, akhlak, tradisi, dan ide-ide yang bersumber dari agama Allah dan risalah Rasul-Nya. Prinsip-prinsip ini tidak boleh dikotori oleh kepentingan duniawi.
Sunatullah Dakwah: Jalan yang Penuh Ujian
Dakwah bukan jalan yang selalu dipenuhi sanjungan dan pujian. Sunatullah dakwah adalah penuh ujian, onak, dan duri. Para nabi dan rasul pun menghadapi penolakan, ejekan, bahkan ancaman dalam menyampaikan risalah Allah.
Habib Muhammad Rizieq Syihab pernah mengingatkan bahwa jika perjuangan dakwah terasa terlalu nyaman dan aman-aman saja, maka seorang dai perlu bermuhasabah, jangan-jangan ada yang perlu diperbaiki dalam dakwahnya.
Tujuan Dakwah: Menegakkan Kalimatullah
Pada akhirnya, dakwah adalah panggilan tugas seorang Muslim untuk menegakkan kalimatullah. Seorang dai harus siap berjuang di tengah sunyi dari sanjungan manusia, karena yang terpenting adalah ridha Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Beramallah kalian, dan Allah pasti akan melihat amalan kamu, dan Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada-Nya, Yang Maha Tahu hal yang gaib dan yang nampak, dan Dia memberi tahu kamu apa yang telah kamu perbuat.”
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran utama dakwah adalah amal yang dilihat oleh Allah, bukan pujian yang diberikan manusia.
Kesimpulan
Dakwah yang sejati adalah dakwah yang melahirkan pengikut, bukan penggemar. Pengikut lahir dari ilmu, nilai, dan prinsip Islam yang diajarkan dengan ikhlas. Penggemar lahir dari pesona pribadi dan hiburan yang sifatnya sementara.
Seorang dai harus menjaga niatnya agar tetap bersih dari takabbur, riya, ujub, cinta harta, dan cinta jabatan. Dengan demikian, dakwah akan tetap menjadi jalan perjuangan menegakkan kalimatullah, bukan jalan mencari popularitas dunia.







