Artikel Islami

Ulama Menurut Buya Hamka dan Mohammad Natsir: Warisan Nabi yang Berani Menegakkan Kebenaran

ChatGPT Image 2 Jul 2026, 11.19.57

Oleh : Tim Redaksi

Siapa yang Layak Disebut sebagai Ulama?

Dalam Islam, ulama bukan sekadar orang yang memiliki ilmu agama. Lebih dari itu, ulama adalah pewaris tugas para nabi yang membimbing umat menuju kebenaran. Mereka menjadi sumber ilmu, teladan akhlak, sekaligus penjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Pandangan ini dijelaskan dengan sangat kuat oleh dua tokoh besar Indonesia, Buya Hamka dan Mohammad Natsir. Keduanya menggambarkan bahwa seorang ulama tidak hanya diukur dari kepandaiannya berbicara atau penampilannya, tetapi dari keberanian, keikhlasan, dan integritasnya dalam menjalankan amanah dakwah.

Buya Hamka: Ulama Adalah Pewaris Para Nabi

Dalam tulisannya di Majalah Mimbar Agama tahun 1951, Buya Hamka menyebut bahwa ulama merupakan pewaris para nabi (waratsatul anbiya’).

Para nabi tidak mewariskan harta, melainkan ilmu, petunjuk, dan tuntunan hidup. Karena itu, tugas ulama adalah melanjutkan warisan tersebut dengan membimbing umat menuju jalan yang benar.

Menurut Buya Hamka, ulama memiliki peran sebagai:

  • Pelita di tengah kegelapan.
  • Penunjuk jalan ketika manusia kehilangan arah.
  • Pembela keadilan yang menentang kezaliman.
  • Penyampai kebenaran tanpa rasa takut.

Keberanian inilah yang menjadi salah satu ciri utama ulama sejati.

Kemuliaan Ulama Terletak pada Akhlaknya

Buya Hamka menegaskan bahwa kemuliaan seorang ulama tidak ditentukan oleh pakaian, jabatan, atau simbol-simbol keagamaan.

Yang membuat ulama dihormati adalah:

  • Keimanan yang kuat.
  • Kejujuran dalam menyampaikan kebenaran.
  • Keteguhan memegang prinsip.
  • Keikhlasan dalam berdakwah.
  • Kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.

Seorang ulama tidak mengubah hukum Allah demi mencari keuntungan pribadi atau demi mendapatkan simpati dari pihak tertentu. Ia tetap menyampaikan kebenaran meskipun menghadapi risiko atau tekanan.

Tidak Bergantung kepada Kekuasaan

Menurut Buya Hamka, salah satu kekuatan ulama adalah kemandiriannya.

Seorang ulama yang tidak menggantungkan hidupnya kepada kekuasaan atau kepentingan dunia akan lebih bebas menyampaikan nasihat dan kritik ketika melihat kemungkaran.

Keberanian tersebut lahir karena keyakinannya bahwa kekuasaan tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

Dengan prinsip itu, ulama mampu menjaga martabatnya dan tidak mudah dipengaruhi oleh jabatan, kekayaan, maupun tekanan dari siapa pun.

Mohammad Natsir: Bahaya Ego dan Cinta Dunia bagi Seorang Dai

Pandangan senada juga disampaikan oleh Mohammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

Dalam salah satu tulisannya, beliau mengingatkan bahwa seorang dai harus membebaskan dirinya dari sifat ananiyah atau egoisme.

Menurut Natsir, sifat tersebut dapat melahirkan berbagai penyakit hati, seperti:

  • Takabur.
  • Riya.
  • Ujub.
  • Hubbul maal (cinta harta).
  • Hubbul jah (cinta jabatan dan kedudukan).
  • Keinginan untuk dipuji manusia.

Jika penyakit-penyakit tersebut menguasai hati seorang dai, maka orientasi dakwah bisa bergeser. Dakwah tidak lagi dilakukan semata-mata karena Allah, melainkan demi popularitas, kedudukan, atau kepentingan pribadi.

Dakwah Harus Berdiri di Atas Keikhlasan

Mohammad Natsir mengingatkan bahwa seorang dai tidak boleh menjadikan dakwah sebagai jalan mencari pujian atau keuntungan dunia.

Ketika seorang ulama terlalu dekat dengan kepentingan tertentu hingga kehilangan keberanian menyampaikan kebenaran, maka fungsi dakwah menjadi lemah.

Sebaliknya, dakwah yang ikhlas akan melahirkan keberanian untuk tetap berkata benar, meskipun tidak selalu menyenangkan bagi semua pihak.

Ciri-Ciri Ulama Sejati Menurut Buya Hamka dan Mohammad Natsir

Berdasarkan pemikiran kedua tokoh tersebut, seorang ulama ideal memiliki beberapa karakter utama:

  • Memiliki ilmu agama yang mendalam.
  • Mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
  • Ikhlas berdakwah karena Allah.
  • Berani menyampaikan kebenaran.
  • Menolak kezaliman dan ketidakadilan.
  • Hidup sederhana serta tidak berlebihan mencintai dunia.
  • Menjadi teladan bagi umat dalam akhlak dan ibadah.
  • Menjaga independensi sehingga tidak mudah dipengaruhi kepentingan duniawi.

Mengapa Sosok Ulama Berintegritas Sangat Dibutuhkan?

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat membutuhkan figur yang mampu memberikan bimbingan agama secara jujur, bijaksana, dan berlandaskan Al-Qur’an serta Sunnah.

Ulama berperan sebagai pengingat ketika masyarakat mulai jauh dari nilai-nilai Islam, sekaligus menjadi teladan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan ilmu, hikmah, dan akhlak yang baik.

Karena itu, integritas, keilmuan, dan keikhlasan menjadi fondasi penting bagi setiap ulama maupun dai dalam menjalankan amanah dakwah.

Hikmah yang Dapat Dipetik

Pemikiran Buya Hamka dan Mohammad Natsir mengajarkan bahwa kemuliaan ulama bukan berasal dari popularitas atau kedekatan dengan kekuasaan, melainkan dari ketakwaan, ilmu, keberanian, dan keikhlasan.

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga amanah dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijaksana.

Kesimpulan

Ulama merupakan pewaris para nabi yang memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat menuju jalan Allah SWT. Menurut Buya Hamka, ulama adalah sosok yang berani menegakkan kebenaran, hidup sederhana, dan tidak menjadikan kepentingan dunia sebagai tujuan utama. Sementara itu, Mohammad Natsir mengingatkan agar setiap dai menjaga keikhlasan serta menjauhi penyakit hati seperti cinta harta, cinta jabatan, dan keinginan memperoleh pujian.

Keteladanan kedua tokoh ini menjadi pengingat bahwa dakwah yang kuat lahir dari ilmu yang diamalkan, akhlak yang mulia, serta keberanian untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =

Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Deskripsi
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
  • Beli
Click outside to hide the comparison bar
Compare