Terdengar kabar bahwa Ja’far bin Abi Thalib gugur sebagai syahid dalam Perang Mu’tah, ia meninggalkan dua orang anak. Maka, keduanya dibawa oleh Sang ibunda, Asma` binti Umais menghadap Rasulullah. Beliau lalu mendekap erat keduanya seraya berkata kepada Asma`,”Kefakiran itu membuatmu mengkhawatirkan mereka, padahal aku wali mereka di dunia dan akhirat. Ya Allah, jadikanlah pengganti Ja’far yang mengurus keluarganya dan melimpahkan keberkahan pada Abdullah bin Ja’far.” Abdullah bin Ja’far pun tumbuh menjadi anak dewasa dan menjadi pemilik harta yang banyak dan ia termasuk keluarga Rasulullah yang terkenal dermawan dan banyak bersedekah.
Dari riwayat ini dipahami bahwa keshalehan dan kebaikan orangtua dan nenek moyang menjadi jaminan bagi kehidupan anak-anaknya kelak. Hal yang sama dicerikan dalam Al-Qur`an, Allah mengutus Nabi Musa dan Khidhir dari suatu negeri ke negeri lain untuk mendirikan dinding dua anak yatim agar harta simpanan mereka ditemukan, itu terjadi karena satu faktor: Ayahnya orang shaleh. Padahal, Musa dan Khidir tidak mengenal anak itu. Karena itu, masa depan anak-anak berada di tangan orangtua. Maka, amankanlah masa depan mereka dimana orangtua memaksimalkan iman dan kebaikan.
Nabi pemilik jawamiul kalim artinya kata-kata yang singkat namun padat. Pada hadits-hadits yang beliau sampaikan mengandung pelajaran hidup, nasihat mendalam dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umatnya. Nabi mengucapkan hadits bukan dari keinginan dan hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.







