Kebaikan

Kebaikan dan Keburukan akan melahirkan anak-anaknya

Kebaikan itu akan melahirkan kebaikan-kebaikan baru, seperti halnya keburukan melahirkan keburukan-keburukan berikutnya
KAMIS, 22 MARET 2012
Keluarga Kebaikan
Keluarga Kebaikan (infomuslimah.com)

Itulah sirkulasi kebaikan bahwa ia akan melahirkan anak-anaknya. Ia konsekuensi dari satu kebaikan yang diamalkan. Imam Ibnu Katsir, suatu waktu pernah berkata,  ”Kebaikan itu akan melahirkan kebaikan-kebaikan baru, seperti halnya keburukan melahirkan keburukan-keburukan berikutnya.”

Seseorang yang telah menunaikan satu unit kebaikan maka konsekuensinya, ia akan mengundang datangnya kebaikan baru. Paling tidak, telah terlintas dalam benaknya untuk mengerjakan kebaikan berikutnya. Inilah berkah, kebaikan yang terus bertambah.
Seorang muslim yang membaca Al-Qur`an, biasanya akan termotivasi untuk mengerjakan Shalat Dhuha. Setelah itu, termotivasi untuk bersilaturahmi ke tetangga atau berkunjung ke orang-orang saleh. Setelah itu, ia termotivasi menghadiri majlis taklim dan begitu seterusnya. Jadi, akan tercipta sirkulasi kebaikan pada dirinya, sebagai akibat dia berani memulai mengerjakan suatu kebaikan. Demikian juga, ketika ia telah menolong lain. Kebaikan baru biasanya akan terlintas dalam benak setelah satu kebaikan dirampungkan.

Walaupun memang, ada juga orang yang berpikir ingin melakukan kebaikan saat dia sedang melakukan dosa; dan berpikir ingin melakukan dosa saat dia melakukan amal kebaikan. Misalnya, dia berpikir taubat pada saat berada dalam pelukan wanita selingkuhan. ”Saya akan bertaubat setelah nanti selesai bermain-main dengan wanita ini.” Atau dia berpikir ingin korupsi pada saat melakukan thawaf di depan Ka’bah. ”Setelah thawaf ini selesai, terhapus sudah dosa-dosaku. Jadi, aku bisa merencanakan korupsi setelah ini.” Rasanya sangat ”unik” memikirkan kenyataan seperti itu.
Sebaliknya, sirkulasi kejahatan juga ada. Orang yang bergelimang dosa, biasanya akan terpikir melakoni dosa-dosa baru. Orang yang berzina ia akan meminum khamr; setelah itu setan menggodanya membunuh orang lain; setelah itu ia berdusta bahwa tidak pernah melakukan apa-apa. Seakan dosa-dosa tidak pernah terjadi.

Orang-orang yang berakidah sesat, biasanya akan menularkan kesesatannya kepada orang lain. Dia akan mengalokasikan dana tidak sedikit untuk ”mendakwahkan” ajarannya itu. Coba perhatikan! Akidah dia sendiri sudah sesat, lalu dia ingin membuat dosa baru dengan menularkan kesesatannya; bahkan mengalokasikan anggaran besar untuk mendanai kesesatannya. Tentu, cara seperti ini sangat besar konsekuensi dosanya.
"Dan siapa yang beriman kepada Allah, maka Allah akan selalu membimbing hatinya.”  (At-Taghabun: 11). 

(Muhamad Yasir, Lc, Penulis buku, ”Jangan Hidup Jika Tak Memberi Manfaat)


KOMENTAR
ajxload

KIRIM KOMENTAR
FACEBOOK

TWITTER